Suatu pagi handphone sudah berbunyi tanda ada panggilan masuk, ternyata dari seseorang yang sedang mencari orang untuk membantu. Ya, beliau adalah salah satu orang berpengaruh dilingkungan pemerintahan di Jakarta, cukup surprise juga dapat panggilan telpon dari beliau. Singkat cerita adalah beliau ingin mengembangkan fasilitas mobile app dari sistem informasi persuratan yang sebelumnya telah terdevelop. Baiklah lebih baik kita bertemu, ngobrol face to face dan dihari yang sama kami bisa saling ngobrol tentang itu.

Sebagai orang luar dan awam tentu saja saya melihat terlebih dahulu sistem informasi persuratan tersebut, dan kami belum berdiskusi di bagian intinya yaitu rencana pengembangan mobile app. Sudah barang tentu yang saya lihat adalah struktur datanya terlebih dahulu (sebenarnya saya hanya menginginkan gambar ERD nya saja). Sekali lihat, terasa sangat janggal, karena dalam satu database untuk sistem informasi tersebut terdapat 127 tabel! Oke, saya pikir mungkin memang aplikasinya super kompleks. Lanjutkan observasi, merasa ada kejanggalan lagi dari penamaan tabel-tabelnya, ada yang bernama cart, property, loan, selling, dan seterusnya yang penamaannya sama sekali tidak berasosiasi dengan project terkait. Dari sini timbul kecurigaan, jangan-jangan ini project didevelop dengan cara yang ngasal.

Sampai disitu saya belum berani untuk komentar jujur soal project tersebut, pada akhirnya beliau membuka FTP dan masuk ke struktur file dari project tersebut dan dilihatkan kepada saya. Tak berlama-lama melihat struktur dan cara penamaan filenya, saya sungguh terpesona, woowwww, sangat kacau, teramat amburadul, dan layaknya kandang babi (maaf). Dari sini dengan spontan mulut comberan saya ngoceh, “pak, ini programmernya sinting, seumur-umur baru kali ini saya melihat project yang disusun dan diserahkan kepada klien dengan susunan yang sangat kacau dan tidak berperikemanusiaan”. Beliau senyum-senyum saja melihat respon saya, lalu membalas dengan kata-kata menggelitik, “mas, sekarang sudah lihat kan projectnya bagaimana, mas bisa menyimpulkan sendiri. Asal mas tau saja, selama project ini jalan, saya sudah sama sekali tidak terlibat didalamnya, bahkan project serupa dijaman saya, sama sekali di drop, dan direplace dengan yang sekarang, saya baru dilibatkan kembali setelah mendapat tekanan yang cukup keras dari top management. Dan mas perlu tahu jika yang mengerjakan ini adalah seorang dosen, mas bisa bayangkan jika dosennya saja seperti ini bagaimana dia men-deliver ilmu kepada peserta didiknya? Apakah bakalan lurus?”.

Cerita diatas adalah cerita real yang sungguh-sungguh terjadi.¬†Wowww…. itu semakin menguatkan rumus hidup saya bahwa segala hal yang tidak menghadirkan kesungguhan hati semua akan berjalan dengan sangat kacau baik proses awal, proses pengerjaan maupun proses hasil akhirnya. Jelas dengan metode pengerjaan project tersebut teramat sangat tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun juga, hanya programmer kelas pemula dan bodoh saja yang membuat project yang semacam itu, dan yang lebih membuat saya heran pihak yang punya kerjaan, kok ya mau menerima hasil pekerjaan kandang babi seperti itu? Hahaha mungkin antara yang punya pekerjaan dengan yang diperkerjakan sama-sama, sama-sama gilanya, mungkin… Sayang sekali, sesuatu yang seharusnya mempunyai nilai guna yang tinggi, penuh dengan kemuliaan namun digadaikan dengan pragmatisme tingkat dewa yang tidak saja memperhitungkan masa depan dari pengembangan aplikasi yang dibuatnya namun juga telah membohongi dan juga membodoh-bodohi pihak yang telah membayarnya, serta akan merepotkan beberapa orang yang berusaha untuk memperbaikinya.

Yang saya tahu dan yang saya pahami dari ajaran agama saya adalah Allah dan RasulNya tidak pernah menyarankan umatnya untuk tidak menjadi kaya, tidak pernah juga terlarang mencari rizki sebanyak-banyaknya, bahkan malah dianjurkan untuk menjadi kaya, karena dengan kekayaan seorang muslim dapat menggunakan kekayaan meterialnya untuk berjuang di jalan Allah. Namun, perlu diperhatikan dalam hal proses, mesti ahsan, tidak ada kedzaliman. Jika seperti cerita di atas bagaimana?

Maka, bekerjalah dengan hati dan jangan takut mati karenanya. Wallahu’lam bisshawaf.