Hubungi saya melalui email

Yang Baik-Baik Saja

Mau sekedar nulis judul saja aku bingung, pikiran g beraturan hanya untuk sekedar melakukan delivery apa yang aku rasakan. Yang jelas, kenapa mesti seperti ini? Kenapa kamu selalu seperti itu? Berputar-putar di hal yang sama, silih berganti, kelihatannya sibuk, lalu lalang, namun sejatinya kamu g pernah beranjak dari situ, ya kamu tetap saja disitu jalan ditempat nggak beranjak ke anak tangga berikutnya.

Satu hal dasar yang perlu kamu pahami dengan sungguh-sungguh:

  • Aku bukanlah orang yang memelihara masa lalu, aku bisa dengan cepat melupakan hal-hal yang sifatnya yang telah berlalu
  • Aku orang yang fokus untuk membangun sesuatu, yang artinya pandanganku berorientasi pada masa depan

Dua hal yang mungkin sulit kamu pahami, dan bakalan mencibirku dengan kata “masak sih?” Ya, terserah pada kenyataannya seperti itu. Aku sudah lupa banyak hal tentang sesuatu, siapa, apa, dimana, bagaimana, namun yang membangkitkan ingatan itu malah kamu. Rasanya aneh saja, pelaku sejarahnya sudah mengosongkan itu, namun disisi lain kamu malah menuliskan ulang.

Terus, aku mesti bagaimana? Berdiam diri dirumah tanpa alat komunikasi/teknologi, rumahnya dipageri rapat kayak benteng, pintu digembok berlapis? Atau boleh keluar rumah asal pakai baju zirah besi miliknya Iron Man? Dan berperilaku layaknya robot yang hanya kenal bilangan biner 0 dan 1?

Terkadang aku berfikir, its imposible, namun kenyataannya memang beneran terjadi. Bagaimana mungkin sesuatu yang semestinya g jadi permasalahan malah terus saja menjadi bahan permasalahan, diungkit, direminder dan terus diasah?

Sejauh yang aku pahami hidup ini adalah pembelajaran, termasuk disitu pembelajaran dalam berperilaku antara sebelum dan sesudah menikah, apakah ada orang di dunia ini yang melakukan switching 2 fase itu bisa langsung berubah dalam sekejap? Aku pikir g ada, semua orang membutuhkan penyesuaian, proses penyesuaian itu yang akhirnya dimanakan pembelajaran. Ada hal-hal yang kurang pas diawal semestinya bisa menjadi bahan pemakluman, apa urgensinya memusingkan, mengkhawatirkan dan mengungkit-ungkit masa lalu yang sudah jelas-jelas sudah berlalu?

Please jangan sibukkan dan penuhi pikiranmu dengan sesuatu yang sifatnya sampah, karena semakin kamu memenuhinya dengan sampah, sampah itu akan terus menumpuk dan terus menumpuk, g cuma menumpuk namun juga membusuk. Apakah itu baik bagi berkehidupan?

Beberapa rentetan kejadian yang teramat sangat g masuk akal bagiku, mari kita tulis daftarnya:

  • Dalam kondisi kecelakaan, jari patah, bagaimana mungkin aku sempat berfikir sesuatu yang aneh terhadap perawat-perawat rumah sakit? Lha wong aku menuju kesana aja dalam kondisi random, yang dipikiran cuma bagaimana tau kondisi sebenarnya pasca terjatuh, dapat dokter yang analitis dan mampu membantu memulihkan kesehatanku. Urusan ada perawat yang kamu rasa rese itu ya bukan jadi bagian dari fokus utamaku. Aku cuma berfokus pada pemulihan kondisi fisik dan mentalku. Lalu muncul pertanyaan, kok kekeh kesitu kenapa? Hmmmmm ada main ya, hayo ngaku??!! Ohhh come on… Apakah pernah mencoba memahami bahwa aku adalah orang yang sangat terbiasa g mengandalkan orang lain dalam hal transportasi? Fokusku adalah cari tempat praktek dokter yang terdekat dan kalopun belum berani nyetir/berkendara sendiri, paling nggak lebih terjangkau secara jarak, menghemat waktu dan ongkos perjalanan. Itu saja tak lebih. Ya kali, ada orang datang ke resepsion dalam keadaan tangan bengkak, psikologis down, main genit-genitan dengan si penjaga resepsion?? Laa haula wala quwwata ila billah….
  • Semua orang yang berjenis kelamin wanita menjadi daftar yang perlu dikuliti, hari ini si A, besok si B, besoknya lagi si C, D, E, F, G. Bahkan ada anak magang, yang pada kenyataannya itu dibawah bimbingannya pak Cholik, ruang kerjanya juga terpisah, aku g pernah berinteraksi, ngobrol atau hanya sekedar memberikan pengarahan-pengarahan, nggak sama sekali, mereka jalan full dibawah kendali pak Cholik. Ya pada suatu masa, keadaan memaksa mereka untuk ikut dalam sosialisasi group yang aku handle. Ya ya ya, karena aku membaca situasi akan adanya potensi keributan, sekali ditanya “bareng anak magang?” aku memilih untuk tidak memberikan jawaban yang jelas, lanjut lagi dengan pertanyaan yang sama, mungkin layaknya polisi yang sedang nyidang kriminil, metode pertanyaan yang sama dengan tone intimidatif dengan tujuan kriminilnya pada akhirnya merasa capek/frustasi dan pada akhirnya memilih untuk menjawab yang g seharusnya. Apakah kamu tau, aku mencoba untuk menjaga kondisi, menjaga pikiranmu agar tak kemana-mana. Namun, ya namanya polisi kan memang orang-orang pilihan yang berotak brilian, tak kurang akal dong, langsung cari validasi lewat medsos, dan “hmmmm ini nih, beneran si kriminil bohong! Ketangkep kau sekarang, akhirnya……” Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 11-an, aku orang yang berfikir ambil simpelnya aja dengan waktu yang seefisien mungkin, so aku putusin untuk langsung ke samsat untuk cek fisik pajak kendaraan 5 tahunan, niat hati nyicil kerjaan, ehhhh laporan salah nggak laporanpun juga salah, yang bener saja, aku dapat tonjokan lagi “barengan sama siapa, mboncengin cewek mesti…?” Gila gila gila, asli aku awalnya pengen banget cepet-cepet pulang kerumah, sampe rumah nanti mau beli sesuatu, tapi drop langsung mood, harapan itu kayak debu ditangan yang sengaja ditiup….
  • Niat hati pengen nyeneng-nyenengin anak istri, 2 kali ke tujuan yang sama, 2 kali pula berjumpa dengan kondisi yang sama, berangkat dalam keadaan baik, pulang dalam keadaan berantakan, entah bahan peledak apa lagi yang siap dilempar ke aku…. Reaksi antara sakit dan memasak sampah dikepala masalahnya nggak ada beda, lawan mainnya diminta untuk mengerti, “aku lagi kayak gini lho, lagi apa aku hayooo….”
  • Yang nggak kalah luar biasa lagi adalah perutku lagi sakit sejak sore, semakin malam mengalami eskalasi yang konstan, ya emang konsep hidupku aku memilih untuk nggak reaktif dan wait and see sampai disuatu titik “oke, ambil keputusan A…” Akhirnya sekitar jam 1 kurang, aku membangunkan kamu untuk kasih kabar tentang kondisi perutku dan sekaligus meminta izin untuk ke apotik cari obat. Ya jelas dong, cari apotek terdekat yang operasionalnya 24 jam, sampai rumah langsung muntah-muntah, minum obat 1 tablet, sambil baca-baca profil obatnya nemuin leteratur “nggak masalah diminum langsung 2 tablet yang artinya 2 mg langsung”, eksperimen berhasil, dalam waktu kurang lebih 30-60 menit kondisi perut mulai terasa enak, usus udah nggak meronta-ronta dan akhirnya bisa tidur sekitar jam 2-an. Hati seneng dong ya, masalah perut dah terselesaikan, namun sebelahku bilang dengan nama interogatif “beli di apotek mana tadi, terus ketemu sama si A?”. Ya sallammmmm, lha wong yang dia maksud si A itu aku bener-bener, dan bener-bener-bener-bener nggak tau siapa? Boro2 ngobrol genit-genitan, subyek orangnya saja nggak tau yang mana, dan dalam kondisi perut yang sakit kayak gitu apa iya sih masih sempet berfikir/berniat yang nggak-nggak?
  • Dan macem-macem lah sederetan keanehan-keanehan yang ajaib dan tak masuk diakal, mungkin termasuk…. Ada ya orang dikasih rizki yang jumlahnya g sedikit, cuma diminta duduk manis, tanda tangan ureg-ureg, benar-benar nggak mau, pada akhirnya  okelah, aku mesti nurutin kemauan seuatu yang emang semestinya nggak boleh dilakukan karena nggak sopan secara etika. Cuma diajak mampir ke destinasi yang jaraknya cuma 5-kiloan beneran nggak mau. Ya, malu sih benernya sama si om dan yang pasti takut kuwalat juga dengan ibu, tapi ya sudah lah, biarlah itu aku yang nanggung, bakalan jadi catetan beliau-beliau? ya biarkan saja…. Ehhh ketinggalan, niat hati bantu-bantu dikit urunan kloset, selain bantu-bantu ya bisalah dipake sebagai wasilah rekonsiliasi, tapi “niat dan aksi baik aja nggak cukup ferguso!” Aneh bin ajaib, dari tone-tone kalimat aku merasa dapat semacam warning, “hmmm…. ada apa ini kok baik bener, mau niat jahat apa kau?”

Ohhhh wowwww… Ya Allah aku sebenarnya tau tentang keanehan-keanehan manusia berjenis wanita, tapi jujur aku nggak expect bakalan menghadapi seseorang yang kalau sudah gelap, kegelapannya itu seperti menutup semua hal. Hal baik dan kebaikan-kebaikan pasti ketutup dan yang buruk akan memakan habis hal-hal baik itu yang tersisa hanya hal-hal yang buruk. Aku lebih setuju kecenderungannya ke posesif.

Nikmati saja, sembari semoga Allah berkenan memberikan grujukan hidayah agar pemikirannya lebih terbuka, lebih baik lagi dalam berperilaku. Dengan serangkaian peristiwa konyol yang datang nyaris tanpa jeda itu jujur aku bosan sih, bahasannya cuma dua tema “main-main dengan cewek lain atau membahas masa lalu untuk diangkat ke permukaan lagi”.

Ya, cuma dua itu, bisa kayak yoyo bergantian, atau kalau perlu dimix biar lebih mantab dan nampol.

Pertanyaanku, apa iya sih ritme kayak gini terus-terusan dipelihara? Sedang banyak hal yang semestinya menjadi aksi nyata tapi sudah berulang-ulang dikasih tau nggak ada aksi nyata, masak sih gitu amatan cara memandang sesuatu?

Kita hidup di dunia ini nggak lama, seperti petuah filosofis dari dosen kalkulus waktu kuliah dulu, “dunia ini hanyalah 1 titik diantara garis lurus yang tanpa ujung”, kamu tau apa itu garis? Garis adalah kumpulan dari titik-titik sejajar, nah dunia itu cuma 1 titik diantara titik yang tanpa batas. Apa iya kamu akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang singkat ini dengan mengisinya dengan hal-hal yang sifatnya negatif? Apa iya kamu melewatkan setiap detik dari 1 titik itu dengan bayangan-bayangan, kekhawatiran-kekhawatiran tanpa dasar? Apa iya seperti itu caramu mensyukuri segala sesuatu yang udah diberikan Allah kepadamu? Jika Allah ngasih kamu karunia yang sangat besar, dan disela-sela banyaknya karunia itu ada yang kurang berkenan apa iya sih kamu bakalan blaming ke karunia itu menjadi sepenuhnya buruk?

Ayo lah, janganlah seperti itu…

Aku marah karena aku meresa perulangan yang terus kamu bangun itu masuk ke ranah harga diriku, kenapa harga diri, karena aku emang nggak bermain dan nggak akan pernah bermain di dunia yang nista, menghancurkan hidupku sendiri hanya karena mengejar wanita? Ohhh nggak, nggak, nggak…. Allah sudah kasih aku banyak kenikmatan, aku udah mencukupkan diri denganmu, kamu memang bebal dan kurang cepat berfikir secara analitis dan kalkulatif, tapi itu adalah 1 titik kelemahan yang nggak bisa menutup segala hal-hal baik yang ada pada dirimu. Aku orang yang komit dengan perjanjian, apalagi perjanjian itu didahului dengan syahadatain, kamu adalah orang yang aku pilih, jadi bagian dari hidupku masa sekarang dan yang akan datang.

Nggak usah menguji kesabaranku dengan perulangan-perulangan yang nggak penting itu, jaga sikap, jaga kondisi dengan baik agar terus baik. Umurku tahun ini 41 tahun, alhamdulillah Allah kasih aku banyak, jika jatah umurku 60 tahun berarti hidupku tersisa 19 tahun lagi, aku selalu membangun mindset untuk mengambil seperlunya bagian jatahku di dunia ini, nggak ingin mengisi sisa hidup itu dengan hal-hal yang nggak-nggak apalagi yang malah merusak tatanan hidup yang berpuluh-puluh tahun aku bangun sendiri dengan susah payah. Aku cuma ingin pulang kampung dalam keadaan husnul khatimah, bisa berpamitan dengan kamu, anak-anak dengan kebanggaan. Pada masanya itu akan datang, dan pastikan saat masa itu datang jangan pernah ada penyesalan “kok sewaktu hidupnya dulu, aku tak berbuat lebih baik kepadanya…”