Hubungi saya melalui email

Aku Harus Bagaimana?

Sebelum lebih panjang dan dalam, yang jelas aku bukanlah seorang yang sempurna, kesabaranku juga tak seluas samudera dan dalam titik tertentu aku harus bereaksi enough is enough. Baiklah, akan aku deskripsikan diriku:

  • Aku bukanlah seorang yang membangun fondasi hidup dengan cara yang asal dan serampangan
  • Aku bukanlah seorang yang memikirkan hal-hal yang sifatnya mikro dan hal-hal yang nggak penting
  • Aku membangun fondasi hidupku selama puluhan tahun dengan pendekatan akhirat
  • Aku membangun prinsip keseimbangan hidup

Alhamdulillah, dengan dasar-dasar itu, Allah memberiku segalanya di dunia ini, aku tak pernah kekurangan rizki secara materiil, aku dikelilingi oleh orang-orang yang positif dengan behaviour yang baik, mereka percaya kepadaku karena kompetensi, kesederhanaan dan tanpa drama/tendensi.

Sampai suatu saat aku dipersatukan dengan seorang wanita yang dimana aku sangat mempercayainya, selalu berusaha untuk menutup keburukan-keburukannya dihadapan orang lain, menutup mata apapun yang menjadi masa lalunya, aku berusaha untuk memenuhi segala kehidupannya dengan baik, mengajari banyak hal yang aku yakin sebelumnya nggak pernah dia dapatkan, mencoba untuk membangun mindsetnya yang mengarah ke arah yang lebih baik. Dia berasal dari keluarga yang teramat biasa baik secara ekonomi dan mindset. Allah mempertemukanku dengannya dan menulisnya dalam lahul mahfuz sebagai pendamping hidupku, dan insyaAllah begitulah cara Allah untuk mengangkat derajat seseorang, insyaAllah aku sebagai wasilahnya. Dan aku ikhlas akan hal itu.

Ujian terpanjang dan berat ternyata bukan datang dari jauh, namun dari orang terdekat, begitu kata orang-orang bijak. Dan aku adalah salah seorang yang mulai mengamini kata-kata itu.

Sayangnya aku bukanlah tipe orang yang dengan sabar mesti bawel seperti ibu-ibu pada umumnya, karena aku pikir dia sudah terlampau dewasa untuk diperlakukan demikian. Usaha-usaha tersebut sebenarnya akan membawa dia ke arah yang lebih baik, namun dia seakan bebal untuk menerima itu, menafikan itu semua dan sepertinya tak pernah masuk dalam kalkulasi hidupnya, bahwa hal-hal seperti itu yang nilainya teramat besar dari sekedar apapun!

Mungkin dia berfikir aku tak menyayanginya, mungkin dia fikir aku tak menghiraukannya, mungkin dia fikir aku keluar rumah untuk sekedar main-main dan mencari kesenangan sendiri, mungkin… dan hal terakhir itu sungguh teramat sangat menyakitkan. Dalam kamus hidupku tak akan pernah aku biarkan celah pengkhianatan itu masuk! Demi Allah, demi Rasulullah, NGGAK AKAN PERNAH AKU BIARKAN, ITU PRINSIP!

Mungkin dia sedang menggunakan kaca mata kuda dalam memandang seorang yang semestinya dia percayai lebih dari apapun. Mungkin…

Aku bosan dengan isu yang terus berulang, isu yang masuk ke zona kehormatanku baik sebagai manusia biasa, laki-laki maupun sebagai seorang suami. Itu sungguh teramat sangat menyakitkan bagiku.

Dia seorang yang sebenarnya bawel, namun aku cenderung nggak suka untuk dikasih tahu berulang-ulang, ulang-ulang, ulang-ulang…..! Itu sungguh menyebalkan. Dia seorang yang suka mengungkit-ungkit sesuatu yang dia anggap sebuah kesalahan fatal, yang akupun meyakini itu hanya sebatas ilusi dan fatamorgana, sedang aku seorang yang memilih untuk melihat kedepan, seorang pernah berbuat salah ya wajar, coba kasih tahu sekali, dua kali, dan jangan diungkit lagi, tatap kedepan.

Bagaimana mungkin aku dalam sekejap bisa berubah menjadi seorang yang brengsek, hilang akhlak, prinsip dan menggadaikan harga diri dan prinsip yang selama puluhan tahun aku bangun dengan susah payah dan jeri payah, hanya untuk mengejar kesenangan sesaat? Bagaimana bisa? Please jelaskan kepadaku tentang hal ini…. Itu semua nggak masuk diakal, nalar bahkan nuraniku.

Bagaimana bisa dia mempunyai ilusi liar tentang seseorang yang dia sendiri nggak tahu baik dari sisi konteks dan realita di lapangan?

Bagaimana bisa dia menggempur seseorang yang semestinya dia buat senyaman mungkin dirumahnya sendiri?

Bagaimana bisa ya Allah???

Baiklah, sekarang aku mencoba untuk membuat challenge. Begini, mari kita membuat daftar karakter dan kebiasaan. Dengan daftar tersebut harapanku adalah bisa menjadi bahan yang lebih proporsional untuk menilai seseorang, kira-kira seseorang itu cuma manis di bibir saja atau memang sudah menjadi karakter dasarnya. Oke, mari kita mulai:

  • Allah sudah memberiku lebih dalam hidup ini, dan aku memilih untuk mencukupkan diri dengan dunia, ambil seperlunya, jika nggak butuh ya nggak usah diambil bahkan menghindarinya. Semua hal, makanan/minuman, uang, kekuasaan, bahkan wanita. Bagiku nggak ada urgensinya bermain-main dengan urusan wanita, karena pada prinsipnya mereka adalah kelompok manusia yang membuat hidup ini makin runyam dengan kreatifitas mereka dalam mengambil peran dalam banyak drama-drama. Its mean, sesuatu yang menghancurkan jika bermain dengan itu. ITU PRINSIP!
  • Aku selalu menjaga amalan-amalan harian baik yang wajib maupun yang sunah, bahkan alhamdulillah aku mendawamkan qiyamul lail, biasa tilawah quran tiap hari atau tiap saat kapanpun aku mau
  • Aku hidup dalam lingkungan anak-anak masjid, organisasi dakwah, bahkan pergerakan pemikiran Islam
  • Aku tak bisa berkata kotor baik dalam lisan maupun dalam bentuk tulisan
  • Keluar rumah selalu pakai celana panjang, kalo disuatu waktu dirasa ribet, paling nggak celana pendek bawah lutut
  • Sebisa mungkin aku ikut majlis taklim dan mengajak anggota keluargaku, karena aku sangat memahami diriku sendiri jika aku bukanlah seorang yang cakap dalam men-deliver apa yang aku pahami kepada orang lain. Dengan usaha ini, harapanku anytime Allah memberikan hidayah dan kekuatan pemikiran kepada anak istriku, meskipun itu nggak akan pernah berdampak instan, ya karena sifat dasarnya ilmu itu memang sabar dan nggak pernah ada yang instan.
  • Aku adalah seorang yang box to box dan to the point. Keluar rumah kalo ada keperluan, kelar keperluan langsung balik kandang. Keluar rumah karena tuntutan ke kantor, lepas jam kerja langsung balik nggak ada mampir-mampir atau asik bermain olahraga/game dengan teman-teman. Bahkan aku sengaja memasang 1 pc sebagai media melakukan presensi di rumah. Agar apa? Agar cepat-cepat sampai rumah!

Dengan hal-hal seperti itu apakah bisa dibilang itu hanya sebatas pepesan kosong???!

Mungkin karena minimnya literasi dan kurangnya diskusi yang membangun dengan banyak orang, dia pikir mungkin parameter menyenangkan suami itu hanya dari kehidupan seksual. Mungkin… Tapi aku berfikir demikian. Ya, hal itu tetap masuk sebagai parameter, namun seiring perjalanan kehidupan terkadang hal-hal itu sudah tidak lagi menjadi menduduki kriteria level atas, namun banyak hal lain yang bisa membuat seorang suami itu merasa puas, dalam kasusku misalnya adalah:

  • Kedisiplinan menata barang-barang rumah
  • Kedisplinan, kerapihan, dan kebersihan area dapur
  • Rajin membersihkan lantai, dinding, meja dan lain sebagainya
  • Menata pakaian dengan rapi
  • Ambil barang, kalo sudah kelar, kembalikan ke posisi semula
  • Jika ada barang-barang yang posisinya nggak beraturan, posisikan itu dengan proporsional
  • Ada sampah, ya segera ambil itu letakkan ke tempat yang semestinya, ngga usah nunggu nanti
  • Jika ngobrol, coba lebih dahulu untuk memahami konteks dan menyelami jangkauan pemikiran, kalo belum sampai, lebih baik mengiyakan saja, nggak usah memberikan komentar yang kadang-kadang seakan-akan malah melakukan konfrontasi

Sesimpel itu? Ya, sesederhana itu. Namun, itu memang berat, karena sudah masuk ke ranah kebiasaan, jika menyentuh ranah kebiasaan berarti masuk ke ranah karakter. So, apakah hal-hal itu sudah kamu lakukan secara konsisten dan berkelanjutan?

Alasan bisa dicari, termasuk alasan capek ngurus anak dirumah, ya emang capek, karena tempat yang bebas dari capek itu cuma di surga, namun sayangnya kita sedang hidup di dunia bukan? Ya masak sih, waktu sekian puluh jam, cuma mengerjakan hal-hal di atas nggak ada waktu? Are you sure about that? Cobalah dijawab jujur….

Dan kamu sering kali memposisikan aku diposisi yang sulit, kalo jawab jujur aku juga pasti berhitung kira-kira nanti kemana arah pikirannya, dan arahnya lebih ke hal-hal blaming, kalo dijawab sebaliknya aku juga dianggap pengkhianat, dipikir ada main lah. Ohhh DAMN! Terkadang aku memilih diam untuk membatasi eskalasi, namun kamu terus-terusan bawel mengulang-ulang pertanyaan yang sama, jawab jujur beresiko, mungkin jawaban sebaliknya bisa lebih menetralisir, namun itu pada akhirnya semua jawaban itu adalah salah. Ibarat pertanyaan multiple choice, jawaban A, B, C dan semuanya adalah salah.

Lha terus aku mesti bagaimana? Menuruti “keinginan”mu agar aku benar-benar menjadi manusia mblangsak, brengsek dan hilang moral dan akhlak? Demi Allah dan Rasulullah, wallahi, aku akan tetap disini, mau ada badai campur halilintar, banjir tsunami sekalipun, aku memilih untuk nggak beranjak dari prinsip-prinsip dasar hidupku, aku lebih rela mati menggenggam erat prinsip dasar itu daripada tergiur untuk melepasnya. Karena dengan itu,  aku akan berbangga diri saat menghadap dan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Aku nggak berharap muluk-muluk darinya, aku cuma ingin dijaga marwah dan kehormatanku sebagai laki-laki. Aku akan sangat tersinggung dan marah saat kehormatanku diusik.

Apakah kamu tahu, gimana aku bercerita dengan bangga tentangmu dihadapan teman-temanku tentang kehebatanmu dalam berperan sebagai guru bagi anak kita? Apakah kamu tahu saat aku ajak untuk sekedar tanda tangan sertifikat tanah (yang susahnya setengah mati, kayak anak TK yang mau disunat), dan menolak untuk mampir nemuin ibu walau hanya beberapa menit, yang itu memang nggak etis dan nggak bisa dibenarkan, dan pada akhirnya benar ibu nggak berkenan akan hal itu, dan apakah kamu tahu, itu aku telan mentah-mentah dan tetap melindungimu, aku rela kok mencuci piring sampai bersih meskipun aku sebenarnya bukan aku yang melakukan itu.

Dalam hidup ini akan banyak hal yang nggak bisa kamu kontrol dan pasti nggak akan pernah bisa mengontrol semuanya. Jadi jangan posesif, jadilah seorang istri yang sewajarnya, nggak usah berusaha untuk menjadi seorang yang pintar, karena terkadang laki-laki cuma butuh dijawab sederhana saja, “iya…”, menganggukkan apa yang menjadi pikirannya, bahkan menjadi “bodoh” itu lebih baik.

Apa iya, ritme seperti ini bakalan kamu pertahankan? Ya aku sih tetap berpegang pada prinsip, seseorang itu akan dinilai diakhirnya, dan insyaAllah aku pede untuk menyongsong itu. Akan ada waktunya seseorang akan memberikan testimoninya terhadap bagaimana aku berkehidupan. Ya, alhamdulillah jika Allah berkenan mengirim orang itu saat aku masih hidup di dunia ini, namun yang pasti testimoni itu akan datang dengan deras saat aku “pulang kampung”. Kamu hanya perlu bersabar, namun kalo kamu nggak bisa bersabar ya kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri bahkan semuanya.

Jika Allah menghendaki skenario tesmoni itu datang saat aku berpulang, ya kamu mesti bersabar, bergantung berapa lama lagi umurku di dunia ini, jika aku berpulang esok hari, ya alhamdulillah kamu nggak perlu lama-lama menunggu testimoni itu datang, jika umurku masih 20 atau 30 tahun lagi ya selama itu kamu mesti bersabar untuk menunggu testimoni itu datang dan kamu bisa menilai tentangku secara komprehensif. Namun, saat itu juga, semuanya telah usai. Apakah itu yang kamu inginkan?

Silahkan dipilih, karena hidup ini pilihan. Kamu ingin baik ada caranya, tapi kalo kamu ingin rusak juga ada caranya.