Mungkin kita sering membaca Quran, tapi mungkin kita sering terlupa untuk sedikit membaca arti terjemahannya, maklum karena kita sedari awal tidak dipersiapkan untuk menguasai bahasa yang digunakan oleh Quran yaitu bahasa Arab, sehingga sering ada rasa malas untuk membacanya secara ganda, dalam text Arab yang hukumnya adalah wajib dan dalam text bahasa setempat (terjemahan). Meskipun ada beberapa ulama yang tidak atau kurang setuju dengan adanya terjemahan, karena memang bahasa setempat tidak akan pernah benar-benar bisa mewakili apa yang dimaksud oleh Allah dalam bahasa Arab, karena kita tahu bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling kompleks dan paling detail di dunia, sehingga itulah mengapa Allah menurunkan kitab mulia Al-Quran dalam bahasa Arab. Tapi akan menjadi tidak adil juga jika cetakan Quran tanpa disertai terjemahan, bagaimana orang-orang Islam mempelajarinya? Ya, kalau saya pribadi sih setuju dengan keberadaan terjemahan Al-Quran, lebih adil menurut saya.

Baiklah, kembali ke masalah membaca atau memahami Al-Quran, Ustadz Budi Ashari dalam banyak kajiannya dengan percaya diri declare bahwa semua permasalahan hidup sudah lengkap ditulis oleh Allah di Al-Quran. Jika kita masih berhaluan sekuler (meskipun sedikit), insyaAllah akan sedikit nyinyir dengan pernyataan itu, tapi ada baiknya mari kita coba untuk lebih dalam mempelajari pernyataan tersebut, jika kita tidak fasih berbahasa Arab, mulailah dengan membaca terjemahannya, dan berlanjut ke tafsirnya, lalu kalau masih kurang puas silahkan belajar ke guru yang kita anggap dalam ilmunya.

Sama, saya pernah menjadi seorang yang berhaluan “sekuler” (meskipun sedikit), mendengar pernyataan Ustadz tersebut awalnya lumayan mengabaikan, namun saya coba untuk lebih banyak membaca, membaca buku, membaca permasalahan hidup lalu kadang tanpa sengaja membaca Quran yang mirip dengan permasalahan yang saya hadapi, bukan hanya sekali, namun berkali-kali saya mengalami hal tersebut. Oke, akhirnya saya kalah lagi untuk kesekian kalinya, itu cukup membuktikan bahwa saya sangat kecil, butiran debu juga terlalu besar. Dari serangkaian kejadian itu, baiklah saya memutuskan untuk lebih menjadi orang yang sami’na wa’atha’na kepada Allah dan RasulNya, karena semakin nalar mencoba melawan arus, semakin kalah nalar saya. Jadi, kembali saja ke jalan yang lurus, tak ada gunanya menjadi seorang yang berhaluan “sekuler”.

Oke, sering dalam suatu obrolan baik dirumah, komplek, kantor, pasar dan manapun, seringkali banyak yang berkeluh kesah, curhat lah kalau istilah jaman sekarang, curhat tentang masalah finansial, masalah pasangan, masalah bos yang pelit, masalah perselingkuhan, pengkhianatan dan bla bla lainnya. Anda boleh percaya atau tidak, obrolan kita sehari-hari itu telah direkam Allah dalam Al-Quran ratusan abad silam. Silahkan dibuka QS. Al Ma-‘arij: 18-34 (juz ke 29) yang kurang lebih terjemahannya sebagai berikut:

Ajaib bukan?